Selasa, 10 Mei 2011

Negeri 5 Menara

"...Katanya kalau ingin sukses dan berprestasi dalam bidang apapun, maka lakukanlah dengan prinsip "saajtahidu fauqa mustawa al-akhar" . Bahwa aku akan berjuang dengan usaha yang dilakukan diatas rata-rata yang dilakukan orang lain. Fahimta. Ngerti kan?"
"Iya, tapi biasa saja, kita semua tahu."
"Aku sangat terkesan dengan prinsip ini. Coba renungkan lebih dalam untuk merasakan kekuatan prinsip sederhana ini. Ingatlah, sang juara dan orang sukses itu jauh lebih sedikit daripada yang tidak sukses. Apa yang membedakan seseorang sukses atau tidak? Belum tentu faktor pembeda itu otak yang lebih cemerlang, hapalan yang lebih kuat, badan yang lebih besar dan orang tua yang lebih kaya."
Dia menarik napas. Menggeser duduknya lebih dekat ke kami. Suaranya lebih bersemangat dari tadi.
"Tapi yang membedakan adalah usaha kita. Selama kita berusaha dan bekerja keras diatas orang kebanyakan, maka otomatis kita akan jadi juara."
"Lihatlah berapa perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia? Cuma 0,00 sekian detik dibanding saingannya. Beda jarak juara renang dengan saingannya? Mungkin hanya satu ruas jari. Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan."
"Maksudku kalu kita berusaha sedikit saja lebih baik dari orang kebanyakan, maka kita akan jadi juara. Ingat filosofinya : sedikit saja lebih baik dari orang lain. Itu artinya perbedaan sepersekian detik, satu ruas jari tadi. Kita bisa dan kita mampu jadi juara kalau kita mau." kata Said menggebu-gebu. Dia sekarang bahkan sudah berdiri sambil mengayun-ayun tangannya. Kepalanya yang belum kembali berambut berkeringat.
"Persis. Kita perlu bertekad belajar lebih banyak dari orang kebanyakan. Kalau umumnya orang belajar pagi, siang dan malam, maka aku akan menambah dengan bangun pagi dini hari untuk mengurangi ketinggalan dan menutupi kekuranganku dalam hapalan. Diatas semua itu, ketika semua usaha telah kita sempurnakan, kita berdoa sengan khusyuk kepada Allah. Dan hanya setelah usaha dan doa inilah kita bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah."

Negeri 5 Menara
Ahmad Fuadi



25 April 2011, gua pulang ke Malang setelah dari hari jumat di Bogor soalnya bosen ama Malang. ngebayangin bakal bosen di kereta. (15 jam perjalanan) gua ambil buku Negeri 5 Menara ini buat nemenin gua di perjalanan. buku ini udah lama ada di rumah, terbitnya juga udah 2 tahun lalu, (ketinggalan jaman banget ya) tapi baru sekarang gua bisa baca buku ini. dan isinya, menginspirasi banget.
Alif Fikri, seorang pemuda berdarah Minang baru lulus MTs. satara SMP. dia pengen ngelanjutin sekolah di SMA terbaik di kotanya. Tapi karena ibunya yang punya jiwa agama yang besar, dia ngelarang anaknya buat sekolah di SMA, tapi di Pondok pesantren. akhirnya dengan berat hati dia masuk pondok madani Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. tapi berawal dari ketidak ikhlasan, dia akhirnya dapet sesuatu yang berharga di Gontor.
Dari yang gua baca, Gontor emang ketat banget, selama disana cuma boleh ngomong dua bahasa, Inggris, ama Arab. belajarnya senin sampe minggu kecuali jumat libur. itu pun dari pagi sampe sore belajar, sebelum magrib, ngaji dan ibadah. malemnya dibuka kelas tambahan untuk diskusi. ga kebayang banget gua masuk situ.

Alif punya 5 temen deket, Raja dari Medan, Atang dari Bandung, Said dari Surabaya, Baso dari Gowa dan Dulmajid dari Madura. Mungkin seperti anak SMA lain, mereka bermimpi tentang masa depan mereka masing-masing. Khayalan mereka terbang tinggi setinggi awan yang di langit yang membentuk benua menurut imajinasi masing-masing kepala.

Mungkin, menurut gua pesan dari buku ini adalah kata "man jadda wajada" siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan ada jalan. penulis bener bener nyeritain susah payahnya untuk belajar dan menggapai cita-cita nya. dari buku ini juga gua belajar tentang keikhlasan. dari Alif yang awalnya setengah hati belajar di Pondok, sampe akhirnya ngerasa bersyukur banget bisa masuk Pondok.
Mungkin rada nyerempet mirip kaya hidup gua sekarang, yang rada setengah hati buat kuliah di Malang. mungkin suatu saat gua bakal bersyukur bisa kuliah walaupun di kota ini.

Buat kata "man jadda wajada", mungkin udah kebukti manjur. Alif dapet 8 beasiswa di luar negeri! bayangin dapet 1 aja susah apalagi 8? ini mungkin nyerempet kaya kutipan gua diatas, untuk jadi sukses, butuh sedikit lebih dari rata rata yang orang lain lakukan. mungkin Alif mengaplikasikan teori itu di hidupnya.

buku ini bener-bener buka mata gua kalo semua impian kalo kita udah usaha dan berdoa pasti ada jalannya, Insya Allah. buku ini ngajak dan ngebuktiin, kalo semua jenis cita cita mungkin bisa dicapai. bagus banget buat gua yang pesimis banget kalo ngomongin masa depan gua. haha

Gua mungkin gapunya otak yang pinter, dan materi yang berlebih dari orang tua gua, tapi gua bakal belajar lebih banyak dari rata rata orang lain belajar, dan berdoa lebih banyak dari rata rata orang lain berdoa. "man jadda wajada" siapa yang bersungguh-sungguh pasti ada jalan, Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar