Minggu, 24 April 2011

Timur ke Barat

Kamis 21 april 2011, jam 10.23. Kereta Penataran yang mengantar ke Surabaya Gubeng masih belum nampak. jalur 1 peron 1 sudah ada kereta yang sama, namun ke selatan, Blitar. Hari itu panas, sepanas hatiku untuk pulang. baru 10.40 kereta datang dari selatan. telat 40 menit hal yang biasa bagi perkereta-apian Indonesia. Kereta Penataran merupakan kereta lintas Jawa Timur. jalurnya muter muter kota penting Jawa Timur. Jombang, Kertosono, Kediri, TulungAgung, Blitar, Malang, Surabaya.
Ini pengalaman pertama naek kereta Malang-Surabaya. biasanya naek motor juga bisa. 2jam nyampe surabaya. tapi naek kereta ini lain. dengan 4 ribu, bisa nyampe Surabaya tapi 3 jam lamanya. pemandangan jalannya bisa ngebayar lama nya waktu. baru jalan dari stasiun Malang, ke arah utara, liat ke sebelah timur, hijau bukit-bukit lancip aneh. dibaliknya Bromo berdiri, jalan lebih lama lagi, ada PLTU di daerah purwodadi, uap yang di ambil dari gunung Semeru sana. Jalan lagi ke utara, menjauh dari malang, berarti ketinggian menurun. hawa panas kota industri Pandaan mulai kerasa. Semakin ke utara, bau tak sedap merebak kedalam kereta ini. ya, lumpur Porong Sidoarjo. Bencana yang menurutku bencana nasional ini hanya terletak 3 meter di sebelah timur jalur kereta api. Miris melihat gapura-gapura kampung disini yang berdiri tanpa ada rumah di belakangnya. dari Sidoarjo sampai stasiun Surabaya Kota, ga ada hal lain yang berkesan selain pengapnya udara disini. baru beberapa saat udah ga betah di Surabaya. langsung naek angkot ke terminal Pasar Turi. hanya berjarak beberapa ratus meter aja dari Surabaya Kota. dari sini kereta Kertajaya udah siap mengantarku ke Jakarta.
jam setengah 4, kereta ekonomi Kertajaya berangkat. kereta penuh sesak, kebanyakan anak muda, mungkin sama kaya gua, orang Jabotabek yang sekolah di Jatim. kasian banget. sore itu memang panas, tapi kereta jalan 50 km/jam. bikin hawa panas berubah jadi angin hangat yang damai. 30 menit perjalanan di kiri kanan masih banyak pabrik-pabrik soalnya belum keluar dari surabaya. baru setelah keluar dari surabaya, 30 menit ke barat, kota Lamongan. banyak yang bilang kota ini kota Soto karna terkenal sama Soto Lamongannya. tapi belum pernah gua coba. suasana kampung udah kerasa. kiri kanan kereta, ga ada apa apa kecuali sawah dan tambak-tambak. (kota lamongan juga kota bahari) indah banget. gua gapernah lewat sini sebelumnya soalnya kalo ke jatim selalu lewat jalur selatan. pengen banget maen kesini soalnya walaupun datarn rendah dan deket pantai, tingkat polusi di Lamongan juga rendah.
sekitar 30 menit dari Lamongan, sampai di Babat. gua gapernah denger daerah ini. tapi yang pasti, gerbong yang gua tumpangi kaya diserbu ratusan santri. ya, banyak santri yang naek kereta ini. kereta yang tadi nya nyaman jadi sesak, lebih sesak. babat sebenernya bukan nama kota melainkan sebuah kecamatan, tapi besar. ya kalo malang punya Kepanjen, Pasuruan punya Pandaan, Bogor punya Cibinong kali ya.
setelah sedikit liat sunset di tengah sawah Bojonegoro. gua tidur. cape sama pemandangan yang damai tapi gitu gitu aja. haha, jam 9 gua bangun karna lapar. disini kota yang gua tunggu-tunggu. lampu lampu nelayan di sebelah utara kecil kecil terlihat, sinar lampu pabrik juga terlihat megah di selatan, dikiri kanan kereta, ga ada apa apa, sekarang bukan sawah lagi, tapi tambak dan rawa-rawa khas kota pesisir. Semarang. setelah bosen sama sawah sawah dan sawah, pemandangan disini beda lagi, sebelum stasiun Semarang Tawang, banyak banget tambak tambak ikan yang indah banget sama lampu lampu kota ini. jadi biarpun malam, tetep bisa ngerasain indahnya kota ini. pengen banget bisa jalan jalan di ibu kota Jawa Tengah ini. next time. Setelah lewat stasiun Semarang Tawang, pemandangan yang beda bakal dinikmatin. gua gatau di tempat lain di Jawa ada atau engga, tapi jalur ini disebelah Pantai. ya sambil jalan terus ke barat, tengok sebelah utara, laut jawa pantai kota semarang terbentang dengan luas dan tenang. di sebelah selatannya, tebing tinggi khas pantai. sempet gua bingung gimana cara bangun jalan rel diatas tanah pantai yang (menurut gua) labil, belum lagi ancaman pasang surut air laut yang kalo kena baja rel, bisa bikin rel korosi? ah kejauhan, ga lama lagi gua bakal belajar teknik jalan rel. amin. hehe. well suasana kota Semarang malam itu emang cerah, tapi bulan ga keliatan diatas pantainya. jadi kurang dapet feelnya sih. hehe,
Lewatin kerennya jalur semarang, masuk Weleri, kecamatan di barat Semarang. udah mulai sepi pemandangannya. dan sekiranya ini bakal gua alamin ampe nanti pagi. jadinya gua tidur aja soalnya udah beli makan juga di Semarang tadi.
sekitar subuh, kereta Kertajaya udah nyentuh Cirebon. ya, Stasiun Cirebon Prujakan. masih dengan suasana pantai utara, disini gua liat ada tambak tambak ikan. tapi ga semeriah Lamongan dan Semarang pastinya. disini gua kebanyakan memalingkan pandangan gua ke arah selatan. ya, Gunung Ciremai. Stasiun ini meninggalkan memori indah buat gua, mungkin buat 6 orang temen gua yang lain. Manda, Denny, Doni, Tegar, Pari, Agra, Nunuy. 5 orang yang gua sebutin awal adalah sodara gua di Banyu Karikil. yang sekarang mungkin udah sibuk sama kegiatan mereka masing-masing. Kita bertujuh berangkat ke Cirebon dari Manggarai. jam 7 malem naek kereta ekonomi Bengawan ga dapet duduk sama sekali. sampe tengah malem sampe Stasiun Cirebon ga duduk. sampe Cirebon disambut sama mobil Polisi Hutan pak Kris yang nganterin kita sampe Palutungan, jalur pendakian Ciremai. Meneriakkan Pekik Satya Soedirman di bibir kawah Ciremai. menyanyikan lagu "Skinheads Dem a Come!" sepanjang perjalanan itu. Masih ingatkah kawan? i do really miss that thing. gua harap momen kaya gitu masih bisa gua tulis lagi diwaktu yang lain, dengan jumlah orang yg lengkap, 11 orang.
Entah karna kabut atau kepagian, gunung Ciremai bener bener ga keliatan. padahal, kalo naek kereta Matarmaja (malang-jakarta) dari Cirebon gunung Ciremai jelas keliatan kok. Hari beranjak siang, pedagang yang dari awalnya berlogat suroboyoan, berubah sampe logat jawa Tengah yang (menurut gua) halus. logat Tegal yang lucu, sampe bahasa sunda yang gua kangenin. haha, Dari pabrik-pabrik Surabaya, Tambak-tambak Lamongan, sawah-sawah Bojonegoro, Tebing dan pantai Semarang, memori indah Stasiun Cirebon, sampe hawa panas dan pabrik Bekasi. perjalanan singkat gua sama Kereta Kertajaya berakhir di Stasiun Jatinegara. dari sini gua lanjutin perjalanan ke tanah gua, Bogor.

Kereta api merupakan moda transportasi massal yang mengangkut ratusan orang di dalamnya, dengan jarak yang relatif jauh, biaya yang murah, dan waktu yang 'sedikit' terjamin. dan gua bisa belajar menghargai kehidupan kalo naek kerta ekonomi gini. belajar sabar, toleransi, menghargai alam Indonesia yang sebenernya indah kalo diliat dari sudut pandang kereta api, yang pasti, mengingat memori indah saat itu, bareng sodara gua yang gua yakin suatu saat bakal ngelakuin perjalanan jauh dengan kereta api lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar